Saturday, 11 August 2012

Sejarah Uang

Alkisah awal tentang uang dimulai dengan barter. Jika anda memerlukan telur anda harus mencari orang yang punya telur dan berkeinginan untuk menukarkannya dengan sesuatu. Sistem yang sama sedang kita lakukan sekarang. Namun, kita menggunakan uang sebagai alat penukarannya. Penjual bisa menyimpan uang sampai dia mau membeli sesuatu. Permasalahan dalam barter adalah butuh banyak waktu dan tenaga untuk menemukan orang yang punya dan mau menukarkan barangnya. Dan tidak mudah untuk setuju dengan nilai barang yang ditukarkan. Berapakah harga sapi? Apakah sama dengan harga sekeranjang telur? Solusi dari permasalahn ini adalah uang. Agar uang bisa digunakan , penjual dan pemberlu harus setuju dengan alat pembayaran teretntu, yang juga diterima lingkungan=lingkungan dimana mereka akan menggunakan alat tersebut. Dengan kata lain uang harus punya nilai dan nilai tersebut diketahui oleh banyak orang. Banyak benda-benda yang digunakan sebagai uang selama bertahun-tahun garam, kain sutra, barang keramik,kerang, logam, dan kertas. Di awal 2500 B.C logam mulia seperti emas, perak, dan tembaga digunakan sebgai uang di Mesir dan Asia Minor. Logam bercap digunakan di Cina sekitar 2000 B.C. PAda 700 B.C Kerajaan Lydia sudah menggunakan koin yang dibuat dari elektrum. Koin-koin tersebut menjadi memiliki nilai dan mudah digunakan. Perhitungan koin memudahkan proses pertukaran. Dalam jangka panjang nilai-nilai tertentu daru suatu mata uang diukur dari logam mulia. Di Cina orang menggunakan 2 alat pembayaran; garam untuk barang-barang kecil dan sutra untuk barang-barang mahal. SIKLUS UANG Ketika pemerintahan mencetak uang kertas dan logam baru, uang tersebut digunakan untuk menggantikan uang lama bukan menciptakan uang baru. Jumlah sirkulasi uang terus berubah. Maksudnya permintaan dan persediaan uang berubah-ubah. Peningkatan permintaan uang yang tinggi terjadi berkat kelahiran ATM. A. Bentuk-Bentuk Uang Disertai Arti Definisi / Pengertian 1. Uang Fiat / Uang Token Uang fiat adalah uang yang nilai nominalnya jauh lebih tinggi daripada bahan pembuat uang tersebut. Uang tersebut menjadi berharga karena pemerintah dan masyarakat telah sepakat untuk menerima uang tersebut dengan nilai tertentu. Contoh : uang Rp. 50.000,- biaya produksinya mungkin tidak sampa Rp. 20.000 perlembarnya, namun lembaran uang tersebut memiliki nilai sama dengan emas senilai Rp. 50.000,-. 2. Uang Komoditas Uang Komoditas adalah uang yang nilai bahan pembuatnya / komoditas bahan sama dengan nilai nominal uang tersebut. Contoh : Jaman dulu perunggu, perak dan emas dijadikan sebagai alat tukar transaksi ekonomi yang nilainya berbeda-beda satu sama lain di mana emas lebih tinggi dari perak dan perak lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan perunggu. 3. Uang Hampir Likuid Sempurna Uang hampir likuid sempurna adalah suatu aset yang dapat dijadikan sebagai uang namun tidak semua pelaku ekonomi mau menerima sebagai alat pembayaran karena harus ditukarkan lebih dulu dengan uang likuid (uang fiat dan komoditas) jika ingin digunakan pada seluruh pelaku ekonomi. Contohnya seperti cek yang dapat dipakai di beberapa tempat sebagai alat pembayaran yang dapat dicairkan menjadi uang sungguhan. B. Macan dan Jenis- Jenis Uang Disertai Arti Definisi / Pengertiannya 1. Uang Kartal Uang kartal adalah uang yang dijadikan sebagai alat transaksi sah dan wajib diterima seluruh masyarakat pada perekonomian. Uang kartal umumnya berbentuk uang kertas dan uang logam yang di Indonesia dibuat oleh Bank Indonesia selaku bank sentral yang diberi hak tunggal mencetak yang / hak oktroi. Uang dilindungi oleh Undang-Undang di mana pelaku pemalsuan uang diancam oleh hukuman denda dan kurungan penjara. Contoh uang kartal seperti uang logam Rp. 100,- uang kertas Rp. 1.000,- dan lain sebagainya. 2. Uang Giral Uang giral adalah suatu tagihan pada bank umum yang dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran dan transaksi yang sah dan masyarakt tidak wajib menerima pembayarannya. Uang giral dapat dibilang mudah, aman dan praktis karena dalam melakukan transaksi di mana seseorang tidak perlu menghitung dan membawa banyak uang kontan, jika hilang atau jatuh ke tangan orang jahat dapat segera diblokir dan mudah dalam penggunaannya. Contoh uang giral yaitu adalah seperti cek, giro, telegraphic transfer, dan lain-lain. 3. Uang Kuasi Uang kuasi adalah surata atau sertifikat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah. Contoh uang kuasi adalah saham, obligasi, dan lain-lain. NILAI UANG Nilai uang dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut: a. Nilai nominal dan nilai intrinsik Nilai nominal adalah nilai yang tertulis pada setiap mata uang atau nilai yang tertulis pada uang itu sendiri. Nilai intrinsik adalah nilai atau harga bahan yang digunakan untuk membuat mata uang tersebut. b. Nilai internal dan nilai eksternal Nilai internal adalah nilai uang atau daya untuk membeli sejumlah barang atau jasa tertentu. Nilai internal merupakan nilai riil, yaitu nilai yang dapat diukur dengan jumlah benda yang menunjukkan daya beli uang tersebut. Nilai eksternal yaitu nilai suatu mata uang yang diukur dengan mata uang asing (mata uang negara lain), yang dinamakan kurs uang atau nilai tukar uang. Saat ini sebagian besar uang dibuat dari kertas. Uang kertas yang berlaku saat ini hampir tidak mempunyai nilai intrinsik, akan tetapi masyarakat mau menerima uang tersebut karena kepercayaan masyarakat terhadap uang itu sendiri. Karena berlakunya uang kertas atas dasar kepercayaan, maka uang kertas disebut uang kepercayaan atau fiduciary. Nilai mata uang suatu negara berbeda dengan nilai mata uang negara yang lainnya, oleh karena itu mata uang suatu negara tidak dapat ditukar dengan mata uang negara lain dengan jumlah yang sama. Untuk melakukan tukar-menukar mata uang asing perlu dilakukan kurs mata uang asing. Kurs mata uang asing adalah harga mata uang sendiri atau harga mata uang asing yang dinyatakan dalam rupiah. Beberapa teori mengenai nilai uang a. Inflasi. Jika peredaran uang terlalu banyak maka akan mengakibatkan terjadinya inflasi, yaitu merosotnya nilai uang yang tidak sebanding dengan mengalirnya barang dan jasa. Jika inflasi tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah, maka akan terjadi hiperinflasi. b. Deflasi. Jika perbandingan jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih kecil daripada mengalirnya barang dan jasa akan berakibat terjadinya deflasi, yaitu naiknya nilai uang dan harga barang akan rendah atau murah. c. Devaluasi. Devaluasi adalah kebijaksanaan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang terhadap valuta asing. Pada negara yang mengeluarkan kebijaksanaan devaluasi, harga barang ekspor (di pasaran luar negeri) menjadi murah, sehingga permintaan barang di luar negeri semakin banyak atau bertambah, dan daya beli dalam negeri pun bertambah kuat.

No comments:

Post a Comment